memaknai kata 'baik'

Table of Contents
memaknai kata baik

Hidup seseorang tak pernah terpikirkan bahkan oleh yang mengalaminya. Hanya orang-orang terpilih yang dapat mengetahuinya, bahkan kehidupan orang lain yang memintanya untuk diberitahunya. Namun belum ingin rasanya membahas tentang kebijaksanaan tersebut. Membahas perjalanan sendiri pun adalah hal yang menarik. Utamanya jika ingin menuju kepada kebijaksanaan yang teramat tinggi dalam pandangan bahkan masih sangat jauh.

Mencari makna kata "baik"

Kebijaksanaan pada diri hanyalah bagaimana menerima keadaan diri. Baru kemudian bagaimana mengubah diri menjadi lebih baik. Masih ada kendala juga terutama tentang kata 'baik'. Baik itu seperti apa kriterianya?. Apa maksudnya baik tersebut?. Kapan bisa dikatakan itu baik?. Masih ada bermacam pertanyaan tentang makna kata "baik".

Okelah pada akhirnya pada usia yang sudah senja ini. Memaknai kata 'baik' itupun sangat sulit. Bahkan masih belum ketemu. Jadi bagaimana?.

Bukan menggurui siapapun yang membaca ini. Masih sangat jauh arti 'guru'tersebut untuk dihinggapkan kepada penulis di sini. Semakin jauh dan semakin lelah perjalanan hidup ini, menemukan makna kata 'baik' menjadi semakin sulit.

Anggota DPR adalah Jabatan 'baik'

Sebagai permisalan, bahwa menjadi anggota DPR - Dewan Perwakilan Rakyat adalah capaian menausia yang sangat baik, memperoleh suara dukungan dari 125 ribu orang untuk menjadi anggota DPR Pusat. Hanya orang baik sajalah yang bisa mendapatkan hal tersebut.

Namun apa lacur ketika apa yang menjadi pekerjaannya tersebut malah menjadikannya sebaliknya. Ketika berlawanan dengan kehendak dan kenyataan pada orang-orang yang seharusnya diwakilinya untuk memperbaiki kehidupannya. Justru keputusan-keputusan kelembagaan yang menguntungkan diri pribadi anggota DPR yang seharusnya baik tersebut, menjadi sebaliknya.

Celaka memang, mungkin anggota DPR tersebut secara pribadi adalah orang baik. Namun ketika menjadi terlibat dalam suatu kelembagaan, kepartaian atau apapun yang berada di atasnya, maka hal tersebut menjadikannya menjadi 'bukan orang baik'.

Terlebih fakta-fakta yang menunjukkan atau mungkin lebih enaknya adalah prasangka masyarakat. Begitu saja mungkin lebih 'baik'. Bahwa menjadi anggota DPR adalah untuk mengejar kekuasaan tertentu, dan posisi tertentu yang menentukan baik secara politik maupun secara pribadi untuk menjadikannya sebagai orang yang kaya, mendapatkan penghasilan lebih, dan sebagainya. Acuannya adalah kesejahteraan pribadi, baru kemudian kelompoknya, partai politiknya dan orang-orang di lingkarannya.

Kesejahteraan dan janji-janji pemakmuran bagi orang-orang yang memilihnya. Ketika janji tersebut dikampanyekan untuk mendapatkan suara. Hanyalah sebuah tahapan untuk menjadikannya memiliki posisi dan jabatan sebagai anggota DPR.

Mengkhianati kata 'baik'

Anggapan dan anggapan yang selalu dipertahankan karena memang sistem telah membuatnya menjadi permanen. Bahwa menjadi wakil rakyat adalah 'perbuatan baik' akan selalu dan dipertahankan bagaimanapun caranya bahwa itu 'baik'. Bersinergi dengan Pemerintah dalamhal ini eksekutif, lembaga-lembaga Yudikatif, Tentara Nasional Indonesia, Polri, birokrasi dan Partai Politik. Bahwa hal tersebut dan semuanya menjadi eksekutif, yudikatif, TNI, Polri, birokrasi dan Partai Politik adalah 'baik'.

Baru dengan satu kata yakni 'korupsi' telah menjadikannya sebagai seseorang dengan predikat 'mengkhianati kata baik'. Karena perbuatan yang kemudian dijadikan personal atau oknum agar 'ketidakbaikan' tersebut tidak merusak sebuah 'kebaikan' yang lebih besar dan harus permanen.

Kata 'Baik' untuk melindungi 'Tidak Baik'

Kita belajar dan mengawasi, menjadi saksi bahwa kita berada dalam sebuah pola permainan yang semua orang tidak bisa keluar darinya. Meskipun lembaga tersebut 'sudah tidak baik' namun kita harus mempertahankan keimanan kita, kepercayaan bahkan apapun itu untuk tidak percaya dan menganggap bahwa semua masih 'baik-baik saja'. Meskipun 'baik' sudah terbunuh.

Jadi hingga rambut telah memutih semua, sangat sulit untuk memaknai kembali kata 'baik'. Sebab penulis meyakini bahwa kata 'baik' telah dibunuh sejak lama oleh 'tidak baik'. Meskipun kata 'baik' masih selalu ada dalam lindungan Illahi, namun dia bersembunyi atau disembunyikan, sehingga manusia sangat sulit untuk melihat dan menemukannya kembali. Meskipun kata 'baik' masih bersemayam di jiwa-jiwa yang dibimbing dan dijaga-Nya.

Posting Komentar